Di Balik Cerita Pernikahan Kami

Akhirnya yang ditujukan selama empat tahun pacaran tiba juga. Saya dan pacar memutuskan untuk menikah tepat pada tahun baru Ayam Api kemarin. Pembicaraan tentang pernikahan sebetulnya sudah berlangsung setahun sebelumnya, tapi karena dia harus tugas ke luar kota dan banyak pekerjaan rumah seperti bilang ke keluarga masing-masing, persiapan pernikahan dilakukan sekitar satu bulan.

Proses perkenalan dan lamaran terjadi di bulan Desember 2016 lalu. Proses ini banyak ditundanya karena si pacar enggak pulang-pulang ke Sumedang. Tapi sementara ia berada di luar kota, saya sudah banyak browsing vendor pernikahan yang harganya murah tapi bagus. Apalagi anggaran pernikahan kami maksimal hanya 50 juta. Punya uangnya hanya segitu. Lagian inti pernikahan adalah akadnya, kan?

Idealnya sih pesta pernikahan ingin seperti yang sering muncul di The Brides Dept. Pernikahan dengan konsep mewah, dekorasi penuh bunga, baju pengantin buatan designer, dan lainnya. Tapi ya kalau dituruti bisa stres. Mau tidak mau saya harus bikin konsep sendiri. Untuk menekan budget, kami melaksanakan pernikahan di rumah karena pekarangan belakang cukup luas. Selain itu saya memang sudah terbayang ingin melaksanakan pernikahan yang outdoor ala hippie gitu lah. Santai tapi intim. Untungnya teteh saya selaku pemilik rumah setuju dan malah excited dengan rencana kami. Ia dan suaminya memang gemar melaksanakan pesta dan dekor rumah, jadi proses dekorasi dan layout kami serahkan ke mereka.



Hal pertama yang saya lakukan adalah mengurus katering. Kenapa? Katering memakan banyak alokasi anggaran, oleh karena harus diprioritaskan. Karena katering diperlukan dalam jumlah besar, diperlukan booking dalam waktu lama agar tidak diambil orang lain. Selain acara akad nikah, makanan adalah hal utama yang dipikirkan karena kita 'kan menjamu orang lain. Teteh saya menitip pesan bahwa saya harus cari katering yang enak. Orang tidak akan kagum pada konsep atau dekorasi, tapi orang akan memikirkan makanan kok.

Kami memilih Dalaraos yang terletak di Jl. Siliwangi sebagai catering nikahan. Harganya relatif murah dibandingkan katering lainnya yaitu Rp40.000 per porsi. Tapi tanpa stall lho ya. Saya memesan 80% dari jumlah undangan (btw undangan saya 250 orang) dan 20%-nya saya alokasikan pada stall. Stall juga dibagi dua, ada yang buat makan pagi saat akad nikah, dan ada yang buat makan siang. Menurut saya ini jadi lebih efektif karena saya tidak perlu keluar uang untuk konsumsi akad nikah.

Konsep pernikahan saya adalah etnik dan alam karena di rumah banyak unsur kayu dan tanaman. Oleh karena itu, dekorasinya pun tidak jauh-jauh dari kayu. Kami hanya menggunakan gapura kayu di depan rumah, sekat sebagai pelaminan, dan enam kursi kayu. Untuk dekorasi, teteh saya meminta bantuan temannya ibu Ine di Jalan Sangkuriang, Bandung. Ibu Ine ini memang bergerak di bidang dekor-mendekor. Sayangnya saya enggak tahu apa nama perusahaannya, tapi kayaknya dekorasi khas mereka temanya etnik. Pekarangan kami ditutup dengan kain putih dengan aksen hijau. Putih bikin suasana bener-bener beda. Sederhana, tapi elegan. Ini bisa dijadiin inspirasi lho karena jadi enggak norak. Hehe. Sisanya dipercantik sama bunga mawar putih, bunga sedap malam, dan dedaunan.





Katanya baju pernikahan tidak usah bikin karena hanya dipakai seumur hidup sekali. Sayangnya setelah browsing, saya tidak menemukan baju nikahan yang sesuai dengan konsep acara nikahan saya. Kebanyakan baju pernikahan yang disewa memiliki payet yang penuh, menjuntai, dan lebih cocok digunakan di gedung. Saya butuh baju yang sederhana karena memang acaranya sederhana. Malah saya mau kebaya yang casual, sehingga saya ingin pakai kerah sabrina. Jadi, pakailah pakaian nikahan yang nyaman untuk kalian dan pakaian yang kalian inginkan. Karena memori itu abadi. :)

Sebelum ke penjahit, saya dan sahabat saya pergi ke Tanah Abang dan Thamrin City untuk beli kain. Setelah dapat, saya jahit di Hajjas Fashion di Jl. Taman Pramuka dan ditangani langsung sama pemiliknya yaitu Danis. Danis ini anak muda yang ngerti banget deh bikin baju keren tapi dewasa. Hehe. Sekitar dua bulan, baju saya jadi. Dan, oh, karena biasanya anak muda suka baju yang ketat, saya jadi harus jaga berat badan. Tapi mayan lah ya jadi motivasi untuk olahraga. Hihi.

Baju resepsi yang disiapkan dengan niat.

Danis punya paket baju nikahan yang kalau enggak salah harganya Rp5 jutaan. Wah, saya enggak ada budget segitu. Jadi saya pilih paket jahit kebaya biasa tapi main di payet saja. Dan bajunya cantiikk sekali. Suka! Karena tidak mewah, kebaya ini bisa dipakai ke pesta. Dan sebagai pemanis, saya beli wedding hand bouquet di Benang Sari. Bunga yang saya pilih mawar oranye. Katanya warna oranye pada mawar memiliki arti passion dan excitement. Jadi berharapnya pernikahan kami enggak berlandas cinta aja, tapi ada passion dan penuh kegembiraan.

Karena budget mepet, mulanya saya enggak memikirkan baju untuk akad nikah. Wah, harus cari sewa di mana nih? Terus kalau bikin pasti mahal lagi dong? Tadinya saya mau pakai baju yang sama dengan baju resepsi. Tapi di detik-detik terakhir, saya memutuskan untuk pakai baju yang berbeda. Ya sudah, di H-3, saya cari kebaya encim di Pasar Baru yang harganya kisaran Rp150-an. Untuk kainnya juga sempat bingung. Masa iya harus beli lagi? Akhirnya di H-1, saya memutuskan untuk pakai kain yang dikasih teteh saya saat lamaran. Nekat dan serba mepet ya. Hahaha.

Ternyata tidak perlu mahal.

Baju dan kemeja si pacar juga beli di Pasar Baru. Tapi blazernya beli di H&M karena di sana banyak blazer bagus yang enggak terlalu formal seperti di department store. Baju dia nuansanya hijau, disesuaikan dengan suasana dan kain bawah saya. Sepatunya juga boro-boro sepatu formal. Sepatu yang dia pakai adalah sepatu casual yang beli di Sport Station. Haha, duh.

Nah, kalau perkara cari make up artist (MUA), saya dapat rekomendasi dari teman saya. Teman saya merekomendasikan Fita Angela. Paket make up saya habis sekitar 5 jutaan. Itu enggak pakai sewa baju lho ya. Tapii kalau dibandingkan dengan make up lainnya seperti make up sanggar yang belasan juta, wah menurut saya ini sudah cukup deh. Make up Fita ini modern dan tidak medok, sehingga cocok dengan konsep nikahan saya. Apalagi rambutnya yang dibuat oleh Kiki Kusni juga oke banget!

Kusuka sekali cincin kawinnya.

Beberapa orang memilih emas, perak, platinum, atau paladium. Kami memutuskan untuk cincin kayu saja. Setelah browsing di Instagram dan menemukan CKJBrings, akhirnya kami menemukan yang cocok. Kami mencari cincin yang handmade sehingga bisa disesuaikan dengan selera. Karena tidak ada rosewood yang memiliki karakter kayu yang gelap, kami memilih eboni dengan garis tembaga. Harganya murah-meriah, hanya sekitar Rp400.000 untuk dua cincin. Penjualnya bilang stainless steel-nya dijamin anti karat. Dan ketahanan cincin tergantung dari cara pemakaian seperti enggak boleh dipakai mandi. Emas juga begitu bukan?

Saya ingin acara pernikahan ini dekat dan personal. Oleh karena itu, wedding singer dan MC yang dipilih pun teman sendiri. Untungnya mereka terbiasa membawakan acara nikahan, jadi saya percaya seluruhnya sama mereka. Saya enggak pegang kendali penuh acaranya pengen apa atau lagunya mesti apa saja. Saya kira mereka pasti sudah ngerti. Dan ternyata kehadiran teman bermanfaat sekali. Untuk detik-detik menegangkan seperti saat akad, melihat teman saya di depan yang bertindak sebagai MC rasanya melegakan.

Untuk ucapan terima kasih, kami membuat magnet dari tanah liat. Kata keluarga saya, sebaiknya jangan bikin souvenir yang narsis seperti ilustrasi diri atau foto. Aduh, orang juga males majangnya. Kami membuat souvenir yang netral yaitu quote dari Pramoedya Ananta Toer dan Pure Saturday yang dianggap mencerminkan kesukaan kami pada sastra dan musik. Ceileh.



Karena urusannya kebanyakan saya lakukan sendiri, sampai harus bolak-balik Jakarta-Bandung setiap minggunya, wah energi sama waktu saya sudah habis untuk mikirin hal detail. Saya enggak kepikiran tempat mas kawin dan tempat cincin. Tadinya mau apa adanya saja. Tapi untungnya saudara saya bantu untuk bikin tempat mas kawin dari akrilik. Dan dia juga meminjamkan tempat cincin kawinnya. Btw, tempat mas kawinnya dibuat satu tema dengan kartu undangan saya. Kartu undangan saya adalah kartu pos. Ada beberapa yang diposkan, ada beberapa yang diberi langsung. Sederhana dan efektif. Biasanya saat terima undangan, orang lain akan buang undangan itu begitu selesai. Jadi apa poinnya bikin undangan mahal-mahal tapi pada akhirnya dibuang juga. Hehe.

Kami tulis dalam bahasa Sunda. Karena kami orang Sunda. 

It turns out great!
Walau dibantu oleh keluarga, tapi saya dan pacar yang urus sendiri semuanya. Melelahkan sekali, tapi kami jadi tahu persis apa yang kami mau. Selain itu, jadi bisa menyesuaikan dengan anggaran yang ada. Sepertinya kami hanya menghabiskan 35-40 juta. Ya, memang tertolong karena kami tidak ada biaya venue yang biasanya cukup menghabiskan alokasi dana.

Saya sudah beruntung dari awal karena keluarga saya punya pemikiran yang sama dengan saya, bahwa pesta pernikahan itu tidak perlu mewah. Kita tidak perlu adu gengsi melalui ini. Kita tidak perlu menunjukkan status sosial (ya lagian emang gue siape). Yang penting acaranya lancar dan pernikahannya selalu selamat. Oleh karena itu, saya bersyukur sekali keluarga mau membantu dari acara lamaran, pengajian, hingga acara kemarin. Saya dan pacar (kini suami) menghaturkan banyak terima kasih. Dan tidak hanya pestanya saja yang menyenangkan, semoga saya dan suami menjalani kehidupan yang menyenangkan juga. Tabik!

Kartu terima kasih untuk keluarga.


-------------------------------

Ringkasan:

Venue: Titik Oranje Gallery 
Catering: Dalaraos
Tenda: Bayem Sebelas
Dekorasi: Ibu Ine 
Make up: Fita Angela
Hair do: Kiki Kusni
Souvenir: Elina Keramik
Wedding singer: Syarif Maulana (gitar), Qoqo (gitar+vokal), Fauzi (flute)
MC: Tegar Maulana
Cincin: CKJBrings

Comments

Sekali lagi selamat jadi Istri, ikut berbahagia liatnya :)
btw kabita ih sama cincin kayunya, keren !
Anonymous said…
Gilee...ambu biasanya ga pernah baca sampe tammat dan bbrp detil diulangbaca, ga bisa komen banyak, malah terharu, ambu juga ga ngambek ga diundang, da tetap mendoakan, ambu cuma ngebayangin hal yg sama indah dan sakralnya buat Galuh kelak. Doa buatmu neng Nia dan swami ya. Luv ya
Nia Janiar said…
@Ala: Hatur nuhuunn..

@Ambu: Iyaa mbu, bisa dicontek buat Galuh. Hatur nuhun pisan kanggo doana. 😃

Popular Posts