Desas-Desus Bawah Tanah

Kau tahu, rasanya berisik betul saat kau dan teman-teman kau itu melewati kami. Kaki-kaki kalian membuat tanah berdebam, menggetarkan dari kepala hingga kaki, membikin tulang-tulangku semakin keropos saja. Belum lagi, ada yang berisik, ada pula satu orang yang berkata keras-keras (seperti sedang berpidato atau orasi), belum lagi ada yang duduk di atas nisan membikin berat kami yang ada di bawahnya.

"Siapa sih?" tanya Prof. Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker. Suaranya merambat di dalam tanah.

"Mana ku tahu! Dulu pun pernah begini."

"Heuh!" Pria kelahiran 1882 yang dulu terkenal sebagai arsitek itu mengeluh panjang. Keluhannya semakin membikin teman-temanku yang sedang mengaso dengan tenang di dalam tanah Makam Pandu kini terbangun. Mereka protes sebentar lalu kembali tidur.

"Paling-paling ia mau menjenguk kau yang berprestasi itu. Mereka akan menyebut-nyebut Villa Isola, Gedung Merdeka, Hotel Preanger, sebagai karyamu. Juga akan menyinggung muridmu yang hebat itu--Soekarno. Juga sisipan bahwa kau pernah mendirikan biro C. P. Schoemaker en Associatie, architecten en ingenieurs yang hanya bertahan 6 tahun," ujarku panjang lebar.

"Ah," Schoemaker mengeluh lagi, "buat apa banyak yang datang jika mereka tidak membersihkan ilalang di atas nisanku. Hanya ganggu tidur saja."

Kaki-kaki kau dan teman-teman kau itu melangkah lagi. Tidakkah kau tahu bahwa setiap kaki yang menginjak nisan, gemerutuk batu yang membikin ngilu terasa sampai bawah sini?

Bolehlah jika makamnya seperti keluarga Tan Djin Gie--si pengusaha batik sekaligus pendiri salah satu hotel tertua di Bandung yaitu Hotel Surabaya (1886)--yang memiliki atap dan leluasa. Ketenangan yang harusnya tidak ia dapatkan karena ia bikin orang semakin banyak bersinggah untuk menginap hotel di sini. Mana ia bisa tidur tenang karena keluarganya ada di sampingnya. Nah aku? Satu nisan tanpa atap, bersebelahan dengan kepala di kakiku dan kaki di kepalaku. Di sini sudah seperti rumah susun! Sempit. Padat. Berantakan!


"Kalau mau enak, ya pindah saja ke Ereveld Pandu!" teriak Schoemaker. Aku yakin kau dan teman kau itu pasti ingin ke Taman Kehormatan alias Erevald Pandu. Sayangnya kau harus mengantungi perizinan tertulis untuk masuk ke tempat dikuburkannya para Koninkijk Nederlands-Indisch Leger atau KNIL itu. Jangankan kau yang bukan keturunan, anggota keluarga, atau ahli waris. Orang paling berjasa seperti Schoemaker dan Raymond Kennedy saja tidak dikuburkan di sana. Mereka ikut terinjak bersamaku, si warga sipil sekaligus penganut Kristen taat ini!

"Kristen taat? Apa Salibmu masih utuh di atas nisan? Atau nasibnya sudah sama dengan kuburan Raymond Kennedy yang kini hanya terlihat seperti bongkahan batu di tengah rumput liar?" ejek Schoemaker sambil terkekeh. Setan betul dia!


Kuingat betul ketika Raymond Kennedy baru didatangkan ke pemakaman ini. Walau tidak pernah mengobrol, kudengar ia adalah seorang antropolog kebangsaan Amerika yang terbunuh di Bandung--di negara yang ia cintai betul dan ia tuliskan di buku-bukunya! Hah! Kejam betul orang-orang negeri ini. Kudengar pula bahwa ia sama seperti si tukang ngeluh itu bahwa ia adalah seorang profesor di bidang sosiologi dan antropologi. Orang hebat seperti dia saja makamnya sudah begitu, apalagi aku?

"Mungkin kau harus jadi tukang susu dulu!" ujar Schoemaker sambil terbahak. Kubayangkan rahangnya yang sudah copot itu bergerak ke atas dan ke bawah. Menertawakan seolah-olah makamnya jauh lebih baik dari aku saja!

"Kenapa memangnya si Ursone tukang susu itu? Coba kau ceritakan tentang dia!"


"Di sana dia sama keluarganya yang merupakan pindahan dari kerkhoff Pajajaran. Kuburannya paling megah di sini! Bentuknya seperti kuil di zaman Romawi. Sudah hidup kau di zaman itu? Haha. Mereka penghasil susu kualitas tinggi di akhir abad 19 dengan perusahaan Lembangsche Melkerij Ursone. Awalnya mereka punya 30 ekor sapi, tapi belakangan jadi 250 ekor karena didatangkan dari Belanda. Bayangkan, dari Belanda! Semua susunya mereka simpan di Bandoengsche Melk Centrale (BMC)."

"Itu pasti yang membikin kau dan orang-orang Belanda itu tinggi-tinggi. Bukankah hanya orang mampu yang membeli susu?" tudingku. Seumur-umur, aku baru mencicipi susu barang 3 kali.

Sebelum Schoemaker menjawab, samar-samar kudengar suara di atas tanah, "Kalau orang Islam itu harus engga sih nisannya berbentuk balok? Kalau nisannya bentuknya dikreasikan, dosa enggak ya?"


Biar kutebak. Salah satu dari kau pasti baru melihat makamnya si pilot dan awaknya itu, 'kan? Kau pasti terkagum dengan ukiran orang di atas batu serta baling-baling patahnya, 'kan? Perkenalkan, yang sedang menundukkan kepalanya itu bernama Philippe Marie Mathus Bogaerts dan di sebelahnya terbaring JC. Pols yang sama-sama meninggal di tahun 1933. Mereka wafat karena kecelakaan di antara Padalarang - Cililin.

"Mau aneh-aneh saja mereka itu," ujar Schoemaker, "yang terpenting dari makam bukanlah bentuknya tetapi keturunan yang mengurusnya sambil mengingat bahwa kau terus ada di benak mereka." Schoemaker berujar sendu. Aku paham karena konon yang membiayai perawatan makamnya bukanlah keluarganya, tapi keturunan dari muridnya yang hebat itu. Aku juga jadi paham tentang makam-makam yang tidak bernama melainkan hanya nomer 1 sampai 109 dengan penanda bambu runcing serta bendera merah putih saja. Mereka tidak pernah dicari keluarganya. Mungkin mereka pernah dicari tapi keluarga tidak tahu ada dimana jenazahnya. Padahal mereka ada di situ, membujur kaku di depan pemakaman megah padahal sama-sama berjuang untuk sesuatu yang diyakini: negara.




Tanah berdebam panjang. Kuyakin itu bukan kau atau teman-temanmu, melainkan sebuah motor yang baru melintas di sampingku. Dibandingkan di sini, lebih baik aku disimpan di laci seperti yang ada di dekat makan si Ursone itu. 52 jenazah dibaringkan di laci bertingkat dua dengan plakat marmer yang dipesan langsung dari Italia. Mereka wafat sebelum tahun 1950-an dan berinskipsi Belanda. Walaupun dari beberapa dari laci ada yang dibongkar entah untuk diambil atau dipindahkan, memperlihatkan ketelanjangan mayat dalam tulang belulang.

Samar-samar suara debaman kaki sudah hilang. Kuyakin hari sudah menjelang sore dan kau sudah pulang. Sementara suara galian tanah di sebelah makin kentara saja. Sepertinya ada yang membongkar makam lagi. Kudengar keluarganya tidak pernah bayar sehingga rumah terakhirnya itu akan dibongkar, lalu mayat akan dibakar kemudian agar liangnya ditempati orang baru. Jika terdengar suara-suara halus yang berdesah dengan debaman kecil namun konstan di atas makam, artinya hari sudah menjelang malam.

"Schoemaker, kau masih di sana?" tanyaku.

Tidak ada jawaban. Kuyakin ia sudah tidur.

4 comments:

tiara aywrdn said...

Yaampun kreatif banget penulisannya. Keren!

Nia Janiar said...

Makasiiihhh :)

isackfarady said...

Wah Nia, bisa aja lo nulis cerita ini... kreatip hahahaha...
Pemakaman Pandu emang banyak nyimpan cerita juga ya, sayang kalo ga di dokumentasikan dengan baik. Trus coba kalo kita bisa masuk ke pemakaman eropa itu pasti lebih asik lagi... :)

Nia Janiar said...

Iya nih, sok atuh tolong bikinin perizinannya dulu ke kedubes. Hehe.. Saya penasaran sama chinese cemetery, Sack!